Raih Juara 3 Panjat Tebing se-Jawa, Begini Kisah Dwi Aniti Cangley Mahasiswi UINSSC Taklukkan Rasa Malas
Dwi Aniti "Cangley" saat memamerkan penghargaan Juara 3 Pasanggiri Wall Climbing se-Jawa Batch 2. (dok. Dwi Aniti)

Raih Juara 3 Panjat Tebing se-Jawa, Begini Kisah Dwi Aniti Cangley Mahasiswi UINSSC Taklukkan Rasa Malas

Bagi sebagian orang, prestasi mungkin terlihat sebagai hasil dari bakat dan kemampuan yang sudah dimiliki sejak awal.

TIMES Cirebon,Kamis 3 September 2026, 19:41 WIB
889
T
TIMES Magang 2025

CIREBONBagi sebagian orang, prestasi mungkin terlihat sebagai hasil dari bakat dan kemampuan yang sudah dimiliki sejak awal.

Namun, bagi Dwi Aniti “Cangley”, mahasiswi Jurusan Perbankan Syari'ah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC) semester 5 ini, pencapaian justru lahir dari sebuah pilihan yang pada mulanya bahkan tidak pernah ia rencanakan.

Dwi tidak pernah membayangkan bahwa olahraga panjat tebing akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Saat diwawancarai pada Kamis (3/9/2026), dia bercerita bahwa ketika pertama kali bergabung dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAHAPEKA), ia justru memiliki keinginan untuk masuk ke divisi Gunung Hutan.

Panjat tebing bukanlah pilihan utama, bahkan bukan olahraga yang sejak awal ingin ia tekuni.

Semuanya bermula dari sebuah ajakan sederhana

Ketika MAHAPEKA berencana mengikuti perlombaan di Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Dwi diminta untuk mengikuti latihan panjat tebing sebagai persiapan.

Ia pun mencoba mengikuti latihan tersebut.

Meski perlombaan yang menjadi alasan awal latihan akhirnya tidak terlaksana, sesuatu yang tidak terduga justru terjadi: Dwi tetap melanjutkan latihan.

“Awal mulai saya tertarik dengan olahraga panjat tebing ketika saya masuk MAHAPEKA. Tadinya saya mau masuk divisi Gunung Hutan, tetapi waktu itu saya disuruh ikut latihan karena ada perlombaan di UMC,” ujar Dwi.

Dari sekadar disuruh ikut latihan, perlahan panjat tebing berubah menjadi sesuatu yang ia jalani atas kemauannya sendiri.

Hampir setiap sore sepulang kuliah, Dwi menyempatkan diri berlatih di wall climbing MAHAPEKA.

Sebelum memulai pemanjatan, ia melakukan pemanasan dan lari untuk mempersiapkan kondisi fisik.

Rutinitas itu mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari kebiasaan kecil tersebut terbentuk sebuah karakter: seseorang yang belajar untuk tetap datang dan berlatih, bahkan ketika semangat tidak selalu berada pada titik yang sama.

Dwi mengakui bahwa dirinya bukan seseorang yang setiap hari selalu memiliki motivasi tinggi.

Justru salah satu lawan terberatnya selama menjalani proses tersebut adalah dirinya sendiri.

“Tantangan terberat saya melawan rasa malas saya sendiri,” katanya.

Dia juga mengaku tubuhnya sering merasa letih dan lesu selama berlatih. Dari kondisi itu juga julukan Cangley disematkan pada dirinya.

Pengakuan tersebut memperlihatkan sisi lain dari Dwi.

Di balik prestasi yang kini melekat pada namanya, ia tetap memiliki pergulatan yang sangat manusiawi.

Ada rasa malas, ada rasa gugup, ada rasa malu, dan ada keraguan.

Namun, perbedaannya adalah Dwi tidak membiarkan perasaan tersebut menjadi alasan untuk berhenti.

Ia memilih untuk tetap datang.

Baginya, konsistensi tidak selalu berarti berlatih dengan semangat yang menggebu-gebu setiap saat.

Terkadang konsistensi hanya sesederhana memutuskan untuk tetap bergerak meskipun sedang tidak ingin melakukannya.

Setelah perkuliahan selesai, Dwi berusaha menyempatkan waktu untuk berlatih.

Pada akhir pekan, latihan biasanya dilakukan sekitar pukul empat sore.

Ia juga tidak hanya berlatih di lingkungan kampus.

Untuk memperluas pengalaman dan meningkatkan kemampuan fisiknya, Dwi mengikuti latihan di Valensi Climbing Club.

Lingkungan latihan yang berbeda membuatnya bertemu dengan pemanjat lain dan menghadapi tantangan yang lebih beragam.

Dari sana, kemampuan teknisnya berkembang, tetapi yang tidak kalah penting adalah mentalnya.

Sebab, dalam panjat tebing, kekuatan fisik saja tidak cukup.

Ada ketinggian yang harus ditaklukkan. Ada rasa takut jatuh. Ada jalur yang tidak selalu mudah dibaca. Ada pula tekanan ketika kemampuan diri harus dibandingkan dengan orang lain.

Menariknya, Dwi justru memiliki pengalaman unik dengan rasa gugup.

Sebelum pertandingan, ia mengaku sempat merasa malu dan deg-degan ketika melihat para pemanjat lain.

Ada rasa canggung ketika harus berdiri di tengah orang-orang yang memiliki kemampuan dan pengalaman berbeda.

Namun, semua perasaan itu seolah hilang ketika tangannya mulai menyentuh papan panjat.

“Ketika saya sudah menaiki papan panjatnya, rasa deg-degan dan rasa malu saya seketika hilang begitu saja. Nggak tahu kenapa,” tuturnya.

Dinding panjat menjadi ruang tempat Dwi menemukan keberaniannya.

Di atas papan panjat, ia tidak lagi memikirkan siapa yang sedang melihatnya.

Fokusnya hanya satu: menemukan pijakan berikutnya dan terus bergerak ke atas.

Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawanya pada sebuah pencapaian.

Dwi berhasil meraih Juara 3 Pasanggiri Wall Climbing se-Jawa Batch II 2026 sekitar akhir Agustus lalu.

Gelar tersebut tentu menjadi kebanggaan. Namun, jika melihat perjalanan yang dilaluinya, medali atau sertifikat bukan satu-satunya hal penting yang ia dapatkan.

Dwi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih personal: pembuktian bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu yang dahulu tidak pernah ia rencanakan.

Ia yang awalnya ingin masuk divisi Gunung Hutan, justru menemukan jalan lain melalui dinding panjat.

Ia yang sempat merasa malu dan gugup, justru mampu berdiri dalam sebuah kompetisi. Ia yang mengaku harus melawan rasa malas, akhirnya mampu mempertahankan latihan hingga menghasilkan prestasi.

Dengan kata lain, pencapaian tersebut bukan hanya tentang seberapa tinggi ia mampu memanjat, tetapi tentang seberapa jauh ia mampu mengenal dan menaklukkan dirinya sendiri.

Namun, perjalanan itu tentu tidak ia lalui sendirian.

Dukungan keluarga, teman, dan rekan-rekan MAHAPEKA menjadi bagian penting dalam perjalanan Dwi. Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika rekan-rekannya datang ke Bandung untuk memberikan dukungan secara langsung.

“Begitu besar sekali pengorbanan mereka. Mereka rela datang ke Bandung yang jauh itu hanya untuk mendukung saya,” ungkapnya.

Bagi Dwi, kehadiran mereka bukan sekadar dukungan di pinggir arena. Kedatangan tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap proses yang telah ia jalani.

Dukungan itu pula yang mengingatkannya bahwa sebuah pencapaian tidak pernah benar-benar lahir dari perjuangan seorang diri.

Dinding hanyalah medium.

Lawan terbesarnya adalah rasa malas. Rasa gugup. Rasa malu. Dan batas yang selama ini ia pikir mungkin tidak bisa dilewati.

Perjalanan Dwi menjadi bukti bahwa seseorang tidak harus selalu memulai dengan rencana besar untuk menemukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya.

Terkadang, sebuah kesempatan kecil yang awalnya hanya dicoba karena keadaan justru dapat membawa seseorang pada jalan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Dari seorang mahasiswa yang awalnya ingin masuk divisi Gunung Hutan, Dwi menemukan dirinya di dunia panjat tebing.

Dari latihan yang bermula karena sebuah perlombaan, ia menemukan kebiasaan. Dari kebiasaan, lahirlah konsistensi. Dari konsistensi, muncul keberanian. Dan dari keberanian itu, lahirlah sebuah prestasi.

Bagi Dwi Aniti “Cangley”, menaklukkan dinding panjat bukan sekadar tentang mencapai titik paling tinggi.

Ini tentang belajar untuk tetap naik ketika kaki mulai lelah, tetap mencari pijakan ketika jalur terasa sulit, dan tetap bergerak ketika rasa takut mengatakan untuk berhenti. (*)

Pewarta: Nathia Isnayani Yusninda

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:TIMES Magang 2025
|
Editor:Dody Bayu Prasetyo

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Cirebon, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.