TIMES CIREBON, JAKARTA – Di tengah ketatnya persaingan Liga Italia, satu nama terus menjadi pembeda di tubuh Inter Milan: Lautaro Martínez. Gol yang dicetaknya ke gawang Cremonese, Minggu (2/2/2026) waktu setempat, bukan sekadar membuka jalan kemenangan 2-0, tetapi juga mempertegas status sang kapten sebagai simbol konsistensi dan sejarah baru Nerazzurri.
Gol tersebut menjadi gol ke-170 Lautaro bersama Inter Milan, membuat penyerang asal Argentina itu kini hanya terpaut satu gol dari Roberto Boninsegna, legenda yang menempati peringkat ketiga daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub. Di atas mereka, tinggal dua nama besar: Alessandro Altobelli (209 gol) dan Giuseppe Meazza (284 gol).
Secara khusus di kompetisi Serie A, Lautaro kini mengoleksi 128 gol, menyamai catatan Altobelli dan menempatkannya sebagai pencetak gol keempat terbanyak Inter di Liga Italia. Dengan usia 28 tahun, ia hanya berjarak 10 gol dari Benito Lorenzi, yang berada di posisi kedua daftar top skor Inter di Serie A, sementara Meazza masih memimpin dengan 197 gol liga.
Produktivitas Lautaro juga sedang berada di puncak performa. Dalam 13 laga terakhir Serie A, ia mencetak 10 gol, termasuk gol sundulan pada menit ke-16 yang bermula dari situasi sepak pojok. Selebrasinya pun sarat makna: Lautaro mengangkat kausnya, memperlihatkan pesan ulang tahun untuk sang putri, sebuah momen personal di tengah pencapaian profesional.
Inter Milan kemudian menggandakan keunggulan lewat Piotr Zielinski, yang melepaskan tembakan keras dari jarak sekitar 30 meter pada menit ke-31. Bola sempat terlihat bisa diamankan kiper Cremonese, Emil Audero, sebelum berbelok di udara dan meluncur melewati kedua tangannya.
Laga sempat terhenti pada awal babak kedua selama tiga menit akibat insiden flare dari tribun suporter tamu yang mengenai Audero. Peristiwa tersebut menjadi catatan serius di tengah upaya liga menjaga keselamatan pemain dan ofisial.
Usai pertandingan, Lautaro berbicara dengan nada tenang namun tegas sebagai kapten tim. Ia menegaskan dedikasi golnya untuk sang putri sekaligus untuk para pendukung Inter. Lautaro juga menyoroti pentingnya situasi bola mati dalam pertandingan-pertandingan ketat Serie A, sembari mengakui Inter masih perlu memperbaiki performa, khususnya di babak kedua.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf atas insiden flare, menyebut bahwa tindakan tersebut membahayakan semua pihak.
“Kami adalah pesepak bola, tapi juga manusia. Sepak bola adalah tontonan global, dan keselamatan harus menjadi prioritas,” ujarnya, sembari menyebut Audero sebagai mantan rekan setim dan juara bersama Inter.
Kemenangan ini membuat Inter Milan kini unggul delapan poin di puncak klasemen Serie A, meninggalkan AC Milan yang berada di posisi kedua dan masih harus melakoni laga tandang. Dengan keunggulan tersebut, Inter kian mantap menjaga jarak, sementara Lautaro Martínez terus menulis namanya di antara para legenda klub. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Lautaro Martinez Kian Dekati Rekor Legenda Inter Milan
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |